feel free to comment but you're not allowed to complain!!
just enjoy..

Selasa, 26 Juli 2011

MADESU

Percayalah, ide nulis ini muncul sesaat setelah gue ngintip tweet orang sebelah, when I’m on my way to the office by omprengan. Hehehe…

Si mbak yang rambutnya dicepol duduk sebelah gue itu ceritanya lagi kasih semangat untuk temennya lewat twitter. Isinya kurang lebih begini, “@(namatemennyaguelupa) Semangat dong!! Madesu=Masa Depan Sukses”

Well, sebagian dari kita dulu (termasuk gue) selalu dijejelin sama arti madesu yang buruk.

Madesu stands for Masa Depan Suram!!!

Believe it or not, saat kita sudah me-mindset kata suram, ya madesu artinya bisa jadi masa depan suram. Dan saat itu psikologis kita secara nggak langsung bekerja untuk menjadikan masa depan kita suram.

Tapi kalau sekarang kita me-mindset madesu-nya jadi sukses, ya sangat mungkin untuk kita menjadikan masa depan itu sukses.

So set your mind positively!!!

Saat kamu ada di bawah, pola pikir, semangat dan usahanya nggak boleh ikutan di bawah, tapi justru harus selangkah atau seribu langkah lebih baik daripada sebelumnya.

Dan sekali lagi saya sarankan untuk mengimani ayat-ayat di bawah ini:
Selalu ada SUKSES dalam KESURAMAN
Selalu ada BERHASIL dalam KEGAGALAN
Selalu ada BAHAGIA dalam KESEDIHAN
(al-positif ayat 2011)

If sadness, failure, and gloomy things come first, just set your mind, their will be a happiness and success come after.

FYUI (For Your Unimportant Information): Tulisan ini dibuat pakai memopad blackberry pas gue lagi sempit-sempitan duduk di omprengan menikmati “pertumbuhan laju ekonomi masyarakat yang meluap-luap” (baca: MACET)

Have a nice day and…
Please share yours 

Senin, 25 Juli 2011

New Life = New Spirit (Literally)

Selamat Menempuh Hidup Baru..

Kata-kata itu layak disampaikan pada saya. Yesss, I’ve just entered my new-real-life. Nggak lagi jadi tanggungan mama papa. Bukan karena mereka nggak mampu, tapi karena saya nggak mau.

Selamat menempuh hidup baru – Semoga bahagia selalu

Nah, kata-kata semoga bahagia selalu kayaknya nggak cuma buat mereka yang menempuh hidup baru dalam arti pernikahan. Tapi buat gue yang baru menempuh hidup baru jadi karyawan juga doa itu dirasa sangat diharapkan.

Hari pertama masuk, hmm… nothing special.

Awalnya saya berpikir, kerja di gedung pencakar langit di jantung kota Jakarta (baca: Sudirman) dengan setelan blazer dan heels bisa jadi pemacu semangat kerja. Tapi sudahlah, saya belum bisa menyimpulkan sekarang. Ini masih hari kedua. I love to create ideas. My job, forced me to do it. So I hope I’ll enjoy it soon as possible.

I’ll keep think positive that God blessed me with this job, instead my friends who still seeking for it.
Thank God..

Which of your God’s favours you’d deny?
I don’t have any …



Please share yours.. 

Rabu, 06 Juli 2011

(pur)SUE your SHOE

“Dan bukankah alas kaki memang sering dipandang sebagai perwakilan terjujur status sosial seseorang?”
Kalimat itu tak bisa hilang dari pikiran saya sesaat setelah saya membacanya di “Kicau-Kacau”-nya Indra Herlambang.

Saya (dan mungkin Anda) termasuk orang yang sangat memperhatikan kenyamanan dan kecantikan alas kaki. Saya sangat setuju dengan kalimat di atas, karena Sometimes I do judge people from their shoes!!

Sedari kecil saya dibesarkan di keluarga yang sangat menjunjung kerapihan, terutama soal sepatu. Papa paling anti kalau anaknya pergi pake sandal. He doesn’t care about the price of those sandals. Intinya kalau anaknya pergi pakai sandal, pasti sepanjang perjalanan anak itu bakal kena omel. Ya memang semengerikan itu. In fact, papa nggak punya sandal selain sendal jepit yang selalu disimpannya di mobil dan baru akan dipakai saat ia akan solat. Entah ada berapa dus sepatu yang selalu siap di bagasi mobilnya, ia merasa tidak pede jika kakinya tidak diselimuti sepatu.

Kebiasaan itu lekat sekali di diri saya dan adik-adik. Percayalah papa baru mulai cuek soal sandal yang saya dan adik saya pakai sejak kami menginjak bangku kuliah. Sandal yang kami pakai modelnya juga tidak sesimpel sandal swallow, mungkin dia merasa sudah bukan saatnya ia melarang anak-anaknya berekspresi.

Saat ditanya kenapa ia selalu membiasakan kami menggunakan sepatu, jawabannya sesimpel, “nggak sopan pergi pakai sandal, lagipula keliatan nggak rapi”. Itu kata papa. Beda lagi kata mama, “anak mama dari kecil sudah dibiasain pakai sepatu biar kakinya nggak jeber”.

Dulu pacar saya (sebelum-jadi-pacar) pakai sepatu super belel kayak udah 1000 tahun nggak pernah dicuci. Begitu dia resmi pacaran sama saya, no more sepatu belel. Unshamed to told ya, dulu saya pernah melakukan kesalahan besar, pengen jadi sosok yang beda, saya pakai sepatu beda kanan dan kiri. Sepatunya butut pula. Ih kalau diinget-inget biar apa coba dulu gue kayak gitu? Ya anggaplah itu usaha saya cari perhatian. Hahahaha...

Sekarang Alhamdulillah udah sadar 

“Wah kakinya halus ya, pasti kamu sepatunya empuk-empuk semua ya? Telapak kakinya nggak pecah-pecah nih”, ujar mba-mba salon yang mem-pedicure kaki saya.
Sampai di rumah saya mikir, apa iya-iya sepatu gue empuk semua?

Ternyata gue udah balik ke jaman kecil dulu. Waktu kecil nggak pernah mau pake sepatu kalau nggak merek. Pas SMP-SMA agak-agak bodo amat yang penting kece. Kuliah tingkat akhir baru peduli lagi sama yang namanya kenyamanan dan kekecean sepatu.

Unlucky me, kulit gue sangat sensitif dalam segala hal baru termasuk sepatu. Sepatu merek apapun yang dipakai pertama kali di kaki gue pasti lecet. Nggak cuma itu, kalau sepatu itu nggak punya penyerapan yang baik, pasti kaki gue gatel. Ini sama sekali nggak keren

Berhubung kemampuan ekonomi belum mumpuni untuk beli sepatu yang super nyaman dan super kece, saya menyiasatinya dengan “selalu-sedia-handsaplast-di-dompet-kalo-kalo-kaki-gue-lecet”. Ada beberapa sepatu kesayangan yang harganya sampai di tujuh digit membuktikan bahwa yang dijual bukan cuma mereka dan harga, tapi kenyamanan. Sepatu itu tingginya 12cm, dan mampu menopang badan saya tanpa pegel!! And magicly, it doesn’t hurt!! Dari situ deh, langsung percaya sama anggapan, “harga nggak pernah bohong”!!    

Yayaya, saya adalah penunggu sale sejati. Buat saya, mending beli sepatu merek sekalian tapi pas sale daripada harus beli yang ecek-ecek tapi lecet dan cepet rusak.

Anyway, have you tried Havainas or Birkenstock or Crocs as your sandals?
Tiga merek di atas sangat direkomendasikan untuk kalian yang pengen pakai sandal tapi serasa kayak nggak pakai sendal saking empuknya. Hahahaha. Untuk crocs, modelnya emang agak jayus-mirip-sepatu-sendal-badut, tapi kualitasnya okelaaaaah (y)

Eh eh, tapi sepatu yang saya punya itu tujuh digit diawali dengan angka satu lho. Itu pun belinya harus nunggu sale. Hahahahaha.

Beberapa teman saya termasuk orang yang sangat memperhatikan kenyaman dan kekecean tanpa memperhatikan “kedompetan”. Sepatu sekelas Loubutin dan Tod’s adalah perlengkapan wajib mereka setiap harinya. Sometimes I wonder, “Kalau kaki gue pake tuh Loubutin 9juta, lecet nggak ya? Pegel nggak ya?” or “Kalau gue pake tuh Tod’s 14juta, rasanya tetap kayak pakai sepatu atau kayak pake bantalan di kaki ya saking empuknya?

Nah kalau mereka-merek barusan, kayaknya walaupun sale-further-reduction juga belum kebeli. I'm still pursuit those shoes. For now, mending tetep selalu siapin handyplast di dompet deh. Hehehe

Please share yours...