feel free to comment but you're not allowed to complain!!
just enjoy..

Rabu, 03 Agustus 2011

WORSE THAN AN IDIOT

Kalian boleh sebut saya bodoh or anything worse than an idiot
Itu kata yang paling tepat menggambarkan keadaan saya saat ini.
I know what I dreamt about and I know I can reach it but I don’t know how.
It sounds pathetic but its undescribably happened to me

Selasa, 26 Juli 2011

MADESU

Percayalah, ide nulis ini muncul sesaat setelah gue ngintip tweet orang sebelah, when I’m on my way to the office by omprengan. Hehehe…

Si mbak yang rambutnya dicepol duduk sebelah gue itu ceritanya lagi kasih semangat untuk temennya lewat twitter. Isinya kurang lebih begini, “@(namatemennyaguelupa) Semangat dong!! Madesu=Masa Depan Sukses”

Well, sebagian dari kita dulu (termasuk gue) selalu dijejelin sama arti madesu yang buruk.

Madesu stands for Masa Depan Suram!!!

Believe it or not, saat kita sudah me-mindset kata suram, ya madesu artinya bisa jadi masa depan suram. Dan saat itu psikologis kita secara nggak langsung bekerja untuk menjadikan masa depan kita suram.

Tapi kalau sekarang kita me-mindset madesu-nya jadi sukses, ya sangat mungkin untuk kita menjadikan masa depan itu sukses.

So set your mind positively!!!

Saat kamu ada di bawah, pola pikir, semangat dan usahanya nggak boleh ikutan di bawah, tapi justru harus selangkah atau seribu langkah lebih baik daripada sebelumnya.

Dan sekali lagi saya sarankan untuk mengimani ayat-ayat di bawah ini:
Selalu ada SUKSES dalam KESURAMAN
Selalu ada BERHASIL dalam KEGAGALAN
Selalu ada BAHAGIA dalam KESEDIHAN
(al-positif ayat 2011)

If sadness, failure, and gloomy things come first, just set your mind, their will be a happiness and success come after.

FYUI (For Your Unimportant Information): Tulisan ini dibuat pakai memopad blackberry pas gue lagi sempit-sempitan duduk di omprengan menikmati “pertumbuhan laju ekonomi masyarakat yang meluap-luap” (baca: MACET)

Have a nice day and…
Please share yours 

Senin, 25 Juli 2011

New Life = New Spirit (Literally)

Selamat Menempuh Hidup Baru..

Kata-kata itu layak disampaikan pada saya. Yesss, I’ve just entered my new-real-life. Nggak lagi jadi tanggungan mama papa. Bukan karena mereka nggak mampu, tapi karena saya nggak mau.

Selamat menempuh hidup baru – Semoga bahagia selalu

Nah, kata-kata semoga bahagia selalu kayaknya nggak cuma buat mereka yang menempuh hidup baru dalam arti pernikahan. Tapi buat gue yang baru menempuh hidup baru jadi karyawan juga doa itu dirasa sangat diharapkan.

Hari pertama masuk, hmm… nothing special.

Awalnya saya berpikir, kerja di gedung pencakar langit di jantung kota Jakarta (baca: Sudirman) dengan setelan blazer dan heels bisa jadi pemacu semangat kerja. Tapi sudahlah, saya belum bisa menyimpulkan sekarang. Ini masih hari kedua. I love to create ideas. My job, forced me to do it. So I hope I’ll enjoy it soon as possible.

I’ll keep think positive that God blessed me with this job, instead my friends who still seeking for it.
Thank God..

Which of your God’s favours you’d deny?
I don’t have any …



Please share yours.. 

Rabu, 06 Juli 2011

(pur)SUE your SHOE

“Dan bukankah alas kaki memang sering dipandang sebagai perwakilan terjujur status sosial seseorang?”
Kalimat itu tak bisa hilang dari pikiran saya sesaat setelah saya membacanya di “Kicau-Kacau”-nya Indra Herlambang.

Saya (dan mungkin Anda) termasuk orang yang sangat memperhatikan kenyamanan dan kecantikan alas kaki. Saya sangat setuju dengan kalimat di atas, karena Sometimes I do judge people from their shoes!!

Sedari kecil saya dibesarkan di keluarga yang sangat menjunjung kerapihan, terutama soal sepatu. Papa paling anti kalau anaknya pergi pake sandal. He doesn’t care about the price of those sandals. Intinya kalau anaknya pergi pakai sandal, pasti sepanjang perjalanan anak itu bakal kena omel. Ya memang semengerikan itu. In fact, papa nggak punya sandal selain sendal jepit yang selalu disimpannya di mobil dan baru akan dipakai saat ia akan solat. Entah ada berapa dus sepatu yang selalu siap di bagasi mobilnya, ia merasa tidak pede jika kakinya tidak diselimuti sepatu.

Kebiasaan itu lekat sekali di diri saya dan adik-adik. Percayalah papa baru mulai cuek soal sandal yang saya dan adik saya pakai sejak kami menginjak bangku kuliah. Sandal yang kami pakai modelnya juga tidak sesimpel sandal swallow, mungkin dia merasa sudah bukan saatnya ia melarang anak-anaknya berekspresi.

Saat ditanya kenapa ia selalu membiasakan kami menggunakan sepatu, jawabannya sesimpel, “nggak sopan pergi pakai sandal, lagipula keliatan nggak rapi”. Itu kata papa. Beda lagi kata mama, “anak mama dari kecil sudah dibiasain pakai sepatu biar kakinya nggak jeber”.

Dulu pacar saya (sebelum-jadi-pacar) pakai sepatu super belel kayak udah 1000 tahun nggak pernah dicuci. Begitu dia resmi pacaran sama saya, no more sepatu belel. Unshamed to told ya, dulu saya pernah melakukan kesalahan besar, pengen jadi sosok yang beda, saya pakai sepatu beda kanan dan kiri. Sepatunya butut pula. Ih kalau diinget-inget biar apa coba dulu gue kayak gitu? Ya anggaplah itu usaha saya cari perhatian. Hahahaha...

Sekarang Alhamdulillah udah sadar 

“Wah kakinya halus ya, pasti kamu sepatunya empuk-empuk semua ya? Telapak kakinya nggak pecah-pecah nih”, ujar mba-mba salon yang mem-pedicure kaki saya.
Sampai di rumah saya mikir, apa iya-iya sepatu gue empuk semua?

Ternyata gue udah balik ke jaman kecil dulu. Waktu kecil nggak pernah mau pake sepatu kalau nggak merek. Pas SMP-SMA agak-agak bodo amat yang penting kece. Kuliah tingkat akhir baru peduli lagi sama yang namanya kenyamanan dan kekecean sepatu.

Unlucky me, kulit gue sangat sensitif dalam segala hal baru termasuk sepatu. Sepatu merek apapun yang dipakai pertama kali di kaki gue pasti lecet. Nggak cuma itu, kalau sepatu itu nggak punya penyerapan yang baik, pasti kaki gue gatel. Ini sama sekali nggak keren

Berhubung kemampuan ekonomi belum mumpuni untuk beli sepatu yang super nyaman dan super kece, saya menyiasatinya dengan “selalu-sedia-handsaplast-di-dompet-kalo-kalo-kaki-gue-lecet”. Ada beberapa sepatu kesayangan yang harganya sampai di tujuh digit membuktikan bahwa yang dijual bukan cuma mereka dan harga, tapi kenyamanan. Sepatu itu tingginya 12cm, dan mampu menopang badan saya tanpa pegel!! And magicly, it doesn’t hurt!! Dari situ deh, langsung percaya sama anggapan, “harga nggak pernah bohong”!!    

Yayaya, saya adalah penunggu sale sejati. Buat saya, mending beli sepatu merek sekalian tapi pas sale daripada harus beli yang ecek-ecek tapi lecet dan cepet rusak.

Anyway, have you tried Havainas or Birkenstock or Crocs as your sandals?
Tiga merek di atas sangat direkomendasikan untuk kalian yang pengen pakai sandal tapi serasa kayak nggak pakai sendal saking empuknya. Hahahaha. Untuk crocs, modelnya emang agak jayus-mirip-sepatu-sendal-badut, tapi kualitasnya okelaaaaah (y)

Eh eh, tapi sepatu yang saya punya itu tujuh digit diawali dengan angka satu lho. Itu pun belinya harus nunggu sale. Hahahahaha.

Beberapa teman saya termasuk orang yang sangat memperhatikan kenyaman dan kekecean tanpa memperhatikan “kedompetan”. Sepatu sekelas Loubutin dan Tod’s adalah perlengkapan wajib mereka setiap harinya. Sometimes I wonder, “Kalau kaki gue pake tuh Loubutin 9juta, lecet nggak ya? Pegel nggak ya?” or “Kalau gue pake tuh Tod’s 14juta, rasanya tetap kayak pakai sepatu atau kayak pake bantalan di kaki ya saking empuknya?

Nah kalau mereka-merek barusan, kayaknya walaupun sale-further-reduction juga belum kebeli. I'm still pursuit those shoes. For now, mending tetep selalu siapin handyplast di dompet deh. Hehehe

Please share yours...

Minggu, 05 Juni 2011

Mempermainkan Waktu

Time is money

Sebegitu berharganya kah waktu sampai bisa disamaratakan dengan uang?

Untuk mereka yang punya sejuta jadwal padat, yes, time is money (literally). Saat mereka lengah mengatur waktu maka mereka akan kehilangan uang.
Dan saat ini jutaan manusia di dunia berlomba dengan waktu..

Time flies. Yes it does!!

Coba sedikit introspeksi diri, seberapa tidak sabarnya ada di jalan? Seberapa seringnya anda menyerobot antrian demi cepat dapat giliran? Seberapa seringnya anda kasih klakson atau lampu dim agar kendaraan di depan anda bisa melaju lebih cepat? Seberapa sering anda menyalip kendaraan di depan demi sampai tujuan lebih cepat?

Itu hanya sedikit contoh kecil yang pasti terjadi tiap hari dalam hidup kita. Dalam contoh di atas apakah anda sebegitu menghargai waktu? Atau mungkin anda begitu tidak sabar? Dirasa beda tipis...
Saat anda harus berpacu dengan waktu, lagi-lagi keterampilan manajemen waktulah yang harus digunakan.
Bukan emosional atau perilaku tidak sabaran yang anda keluarkan, tapi kemampuan berpikir tentang bagaimana “mempermainkan” waktu agar ia bisa bersahabat dengan Anda.

The point is Time Management!!

Tidak ada yang bisa diatur kecuali jodoh, rejeki, dan umur. (Ciee..rasanya ini kayak kultumnya mamah dedeh)

Ya maksudnya semua pasti bisa diatur termasuk waktu.

Sebel banget kalau ada orang yang telat karena jalanan jakarta yang macet. Apalagi jika itu terjadi di saat-saat penting. Udah tau jakarta macet, mbok ya berangkat lebih pagi. Ya caranya adalah pikir dan atur jarak tempuh dan waktu tempuh perjalanan anda bukan menyerobot lampu merah atau menyetir ekstra ngebut di jalan raya. Sekali lagi kuncinya adalah “permainkan” waktu sebaik mungkin agar Anda bisa bersahabat dengannya.

Itu sedikit cerita soal waktu di jalanan

Sedikit berbagi soal kisah-waktu-pribadi saya.
Hampir tidak pernah ada di bayangan saya kalau saya harus menyelesaikan skripsi sambil bekerja. Mama papa pun sempat mempertanyakan kesanggupan saya mengejar kelulusan hanya dalam waktu tiga bulan dan dalam kondisi sambil bekerja. Semua jadi kenyataan karena manajemen waktu yang baik.

Saya punya time schedule yang saya buat sendiri. Yes, I’ve my own deadlines. Dan deadline ini benar-benar harus ditepati walaupun saya buat sendiri. Saat saya tidak menepati itu saya menghukum diri saya sendiri. Hukuman ringan tapi cukup terasa, misalnya saya harus memotong waktu tidur saya sendiri demi tercapainya have-to-do-today itu.

Selain itu, keep focus on my priority. Saat manajemen waktu sudah baik tapi kita tidak fokus dalam melakukannya hasilnya akan sama dengan nol. Banyak gangguan yang datang di saat yang tidak seharusnya. Nah butuh banget yang namanya fokus di sini. Saya selama camkan dalam otak saya, “malesnya nanti aja kalau udah sarjana, mainnya nanti aja kalau udah sarjana, nonton dvdnya nanti aja kalau udah sarjana, jalan-jalan ke mallnya nanti aja kalau udah sarjana, dll”
Sungguh miris saya harus memenjarakan keinginan saya sendiri. Tapi ini demi sebuah pencapaian besar. Dan ada kepuasan tersendiri saat kita bisa melakukan apa yang menurut orang lain tidak bisa. Ya, saya rasakan itu.

And “time is money” is really happened to me!! Kalau saat itu saya tidak atur waktu sebaik mungkin, saya akan kehilangan penghasilan saya dan kesempatan saya keliling Indonesia.

So do flies as fast as time!!

Please share yours!!

Selasa, 01 Maret 2011

MARRIAGE

MARRIAGE!!
I bold that word cause its a bold thing for me and (maybe) you..

Saya orang Indonesia asli yang hidup dengan segala anggapan “aneh” soal pernikahan.
  • 1.       Nikah itu menyempurnakan ibadah!!
  • 2.       Nikah itu nggak gampang, karena kita harus menyatukan dua hati dan dua keluarga besar!!
  • 3.       Nikah itu banyak enaknya deh. Nggak akan pernah nyesel!!
  • 4.       “Kalau tahu sakitnya cerai, ngapain kemarin gue nikah?”
  • 5.       “Kamu perempuan, umurnya udah 25, masa belum nikah juga, apa kata orang? Malu nak”
  • 6.       “Jadi perempuan nggak usah terlalu milih, ntar yang ada jadi perawan tua lho”
  • 7.       “Cari suami yang mapan, biar nanti kamu nggak perlu repot-repot kerja, kan enak toh ndok”
  • 8.       Cari istri yang pintar di ranjang dan di dapur!!
  • 9.       “Umur 30 belum nikah juga? Mending gue deh, umur 30 puluh udah jadi janda. Yang penting gue bukan perawan tua”
  • 10.   “Sebelum kamu sekolah tinggi-tinggi, kamu harus menikah dulu. Nanti kalau kamu terlalu pinter, laki-laki minder lho mau deketin kamu”

Terlepas dari agama apa yang saya anut dan suku apa yang mengalir dalam darah saya, tulisan ini hanya sedikit pendapat (yang mudah-mudahan) logis saya tentang pernikahan.

 23 tahun mungkin jadi umur yang cukup genting bagi sebagian wanita Indonesia. Orang-orang sekeliling saya masih manut sama anggapan, “PEREMPUAN UMUR 25 ITU SUDAH SANGAT PANTAS UNTUK MENIKAH”. It means, saya hanya punya waktu dua tahun lagi untuk masuk ke step kedua dalam kehidupan.

Takut? Tidak!! Panik? Mungkin Iya!!

Tidak bisa dipungkiri budaya kita sedikit aneh memandang soal pernikahan sampai-sampai masalah krusial akan sebuah pernikahan itu lebur. Dua orang jadi satu, apa rasanya? Susah sudah pasti!! Tidak bermaksud untuk negative thinking, tapi itu realitanya.

Banyak perempuan seusia saya mengalami QUARTER LIFE CRISIS terutama masalah pernikahan!! Krisis ini menimpa kita yang berusia 20-an dan berada di bawah tekanan lingkungan dan  ekspektasi yang berlebihan di usia muda. Salah satunya pernikahan.

Saya bahagia lihat teman yang sudah menikah, saya tertawa lihat teman yang ngebet pengen nikah tapi terlihat hal itu masih jauh dari hubungannya dengan sang kekasih, saya terdiam melihat perempuan yang tengah mengalami quarter life crisis.

Sifat diam saya ini merefleksikan kepanikan saya jika suatu saat saya ada di fase itu. kebanyakan perempuan panik when 25y.o come any faster to them!! Satu hal yang membuat mereka panik adalah adanya batasan-batasan yang diberikan lingkungan sehingga kita tidak bisa menentukan yang terbaik.

Remember: TUA BUKAN BERARTI DEWASA!!

Dan menikah itu menuntut kematangan berpikir yang belum tentu dimiliki oleh setiap orang yang tua. 25 tahun juga bukan ukuran untuk mengukur kedewasaan kita. Jika sampai usia itu, kita merasa belum cukup dewasa, buat apa memaksakan?

In fact, ada orang yang mau menikah karena karena faktor kenyamanan materi, faktor kebaikan pasangan dan faktor investasi. Which one are you??

Faktor kenyamanan materi --  si pasangan berani menjamin kehidupan mereka akan baik-baik saja secara finansial. The point: saat calon suami anda menjamin kehidupan finansial akan baik-baik saja walau Anda tak bekerja. Hati-hati karena di situ, pria sedang mencoba untuk melenyapkan bargaining power kita sebagai perempuan.

Faktor kebaikan pasangan -- nggak ada alasan untuk menolak pasangan Anda karena ia begitu baik kepada Anda

Faktor Investasi -- anda sudah tinggal bersama atau masa pacaran yang Anda lalui sudah terlalu lama, sehingga sayang untuk disia-siakan begitu saja
Tiga alasan menikah di atas sungguh sangat tidak matang. Itu sih namanya alasan cari aman.

Sekarang kembali ke diri kita masing-masing!! Anda merasa cukup matang untuk melakukan pernikahan? So go on..
Buat kita yang belum merasa matang untuk hal ini? Just take our time, til happiness find their way..

Well, kalau ada yang ngomong soal kata-kata aneh seperti di bawah ini, at least kamu punya jawaban yang logis untuk menyanggahnya!!
  • 1.       Nikah itu menyempurnakan ibadah!! -- God keeps us going!!
  • 2.       Nikah itu nggak gampang, karena kita harus menyatukan dua hati dan dua keluarga besar!! -- So take your time to match each other!!
  • 3.       Nikah itu banyak enaknya deh. Nggak akan pernah nyesel!! -- Enjoy it!! But remember, life is all about up and down!!
  • 4.       “Kalau tahu sakitnya cerai, ngapain kemarin gue nikah?” -- Everything happen for a reason
  • 5.       “Kamu perempuan, umurnya udah 25, masa belum nikah juga, apa kata orang? Malu nak” -- Age doesn’t matter Mom!!
  • 6.       “Jadi perempuan nggak usah terlalu milih, ntar yang ada jadi perawan tua lho” à As long as I’ll find the best one!!
  • 7.       “Cari suami yang mapan, biar nanti kamu nggak perlu repot-repot kerja, kan enak toh ndok” -- i’m going to lose my bargaining power!!
  • 8.       Cari istri yang pintar di ranjang dan di dapur!! à so why you sent me to the university?
  • 9.       “Umur 30 belum nikah juga? Mending gue deh, umur 30 puluh udah jadi janda. Yang penting gue bukan perawan tua” --  *knock knock on the wood*
  • 10.   “Sebelum kamu sekolah tinggi-tinggi, kamu harus menikah dulu. Nanti kalau kamu terlalu pinter, laki-laki minder lho mau deketin kamu” -- I deserve a smart one!!


PLEASE SHARE YOURS!!





Sabtu, 01 Januari 2011

Amazing 2010

Never regret 2010, big hope on 2011

This is the last post on 2010. Yapp, ini refleksi kehidupan saya di tahun 2010, so many smiles, sometimes tears, but i thank god for all the joy and blessed, so I’m ready to face 2011.

2010  entah apa yang ada di otak gue pas nulis ini, intinya gue mau tulis 10 cerita “up and down” kehidupan gue di tahun macan ini
1.    I Know What’s My Passion!!
Awal tahun 2010, kampus gue nan kucinta (kutukupret) mengharuskan gue untuk praktik kerja lapangan (PKL), pertama gue kerja di media cetak, tepatnya di majalah Aneka Yess!! Gue yakin yang ada di otak lo saat gue sebut majalah itu adalah majalah kelas C, nggak mutu, plus norak. Iya kan? Iya dong? Unshamed to told ya, gue nggak pernah menyesal masuk ke sini. Sejuta pengalaman gue dapat dari majalah yang khas sama ciri senyum tiga jari itu.
Kerja selama empat bulan di sana, bikin gue jatuh cinta sama profesi wartawan (majalah remaja). (hamir) Tiap hari kerja, tiap hari pulang malem, tapi nggak pernah sekalipun gue mengeluh. I called it passion!!
Kerja di Aneka kasih gue duabelasjuta pengalaman berharga. Belajar nulis ala majalah remaja jauh dari kata mudah. I was learning by doing. Exclusive interviewed with Imogen Heap and Dashboard Confessional, jadi moment paling woow di tahun ini. Gue nggak pernah mimpi, wawancara band luar negeri, eh taunya jadi kenyataan. Rejeki emang nggak kemana J jalan-jalan keliling Indonesia gratis, kasih workshop di depan ribuan anak SMA, and FYI, baru di sini gue ngerasa mendadak artis. Kebayang nggak, seberapa kagetnya gue, tiba-tiba gue (beberapa kali) dikerubuti anak SMA yang mau foto bareng . Zzzzz
Gue dapat pengalaman nggak cuma sekedar hanya jadi wartawan doang (kata-kata gue nggak ekonomis amat dah -___-“)  
2.       Dipaksa kawin!!
Beberapa kali gue nangis-nangis datang ke sahabat, ngerasa nyokap gue sedikit nggak normal. Tiba-tiba dia maksa-maksa gue untuk kawin, gue mau dikenalin ke anaknya si inilah si itulah. Zzzz.... Dia obsessed banget pengen punya menantu kaya. Apa namanya? Matre ya? Nggak kok, si mama nggak matre, dia cuma nggak mau anaknya sengsara, tapi caranya berlebihan. Dan saya pun merasa itu sangat berlebihan. Beberapa kali ngerasa pulang, beberapa kali ngerasa kecewa banget sama si mama. Sampai akhirnya, kita bertengkar hebat, dan papa yang mendamaikannya. (mendadak gue nangis pas nullis ini :’(
Once i said to her, “Aku nggak akan nikah cepet. Banyak yang mau aku kejar. Kalau mama mau anak mama nikah cepet-cepet, suruh aja Brena (ade gue) dulluan. Aku rela kok dilangkahin”
3.       Money.. Money.. Money...
Punya uang dari hasil keringat sendiri bukan jadi hal baru dari saya. Tapi tahun ini luar biasa. Saya merasa papa bukan satu-satunya corong kehidupan saya. Saya bisa nabung buat beli ini itu dan bisa jajanin mama papa ini itu dan bisa jalan-jalan ke sana sini. Intinya, I’m happy with my own money...
4.       Go Abroad
Selama 23 tahun hidup di dunia, akhirnya gue pergi keluar negeri. Serunya, pergi pakai uang hasil keringat sendiri.... Walaupun cuma ke Singapore, tapi cukup memotivasi saya untuk cari lebih banyak uang lagi, untuk jalan-jalan lagi
5.       Maybe I was born to be a Workaholic
Baru dua kali kerja gara-gara PKL, tapi entah kenapa gue cinta banget kerjaaaa. Langsung males kuliah, dan berharap ada keajaiban gue bisa lulus tanpa skripsi. Gue pengen cepet kerja, tapi kuliah gue terhambat gara-gara kerja. Maksa pengen kerja sambil kuliah, hasilnya kuliah gue agak berantakan. Nggak masalah deh, yang penting gue nggak mau menyia-nyiakan semua pekerjaan yang ditawarkan ke gue. Eh itu ciri-ciri workaholic nggak sih menurut lo??
6.       Up and Down Love Life
Rachmat Widhia Setya Dharma kayaknya yang lebih tahu seberapa gue jatuh bangun jatuh cinta (bahasa gue kayak meggi jet dah). Putus nyambung, sempat sebentar move on ternyata salah orang, sampai akhirnya gue yakin, tipe cowok impian gue itu nggak selamanya bisa kasih yang gue inginkan. Lengkapnya pernah gue tulis di blog ini, judulya “Butuh untuk Hidup, Ingin untuk Mimpi”
7.       Marriage is Not my Priority
Dulu pas kecil gue punya cita-cita pengen nikah muda dan cepet punya anak. Pas udah gede kenapa gue jadi takut nikah? Kayaknya makin ke sini gue makin sadar,nikah tuh susah dan sedikit menakutkan. Ntar kalau udah nikah, pasti nggak boleh ini itu sama suami. Sedangkan gue paling nggak suka diatur dan gue gampang bosen. Banyak banget kerjaan yang pengen gue cobain, kalau udah punya suami, susah bener kayaknya kalau kerjaan gue menuntut gue banyak di luar, yang ada ntar suami gue rewel. Zzzzzz...
Salah satu mimpi buruk yang paling gue takutin adalah duduk manis di belakang meja kerja dari jam 9 sampai jam 5. Bunuh aja gue!!! Gue suka pekerjaan yang pindah-pindah, nah ntar kalau punya suami pasti susah kan?
Satu lagi, gue belum bisa masak. Walaupun ini bisa belajar sambil jalan, tapi gue suka kasian aja kalau nanti suami gue harus makan masakan pembantu. Intinya, gue merasa belum siap untuk bisa jadi istri yang baik dalam waktu “dekat” (“dekat” means 3 tahun lagi)
8.       There’s No (real) Friends at The Office
Ini pelajaran yang mungkin paling berharga dalam hidup gue. Nggak selamanya teman yang lo kira baik itu bener-bener baik sama lo. Itu terjadi sama gue. Suatu kali gue nolongin temen gue untuk bisa kerja di kantor gue. Awalnya semua terlihat baik-baik aja, tapi kok makin ke sini gue lihat gelagatnya makin aneh. Ternyata oh ternyata, dia iri sama gue. Kenapa gue terus yang diajak roadshow keluar kota? Kenapa dia nggak pernah? Sempet ngerasa gue nggak punya teman di kantor. Dan gue harus temenan sama orang dari divisi lain, nggak big deal sih buat gue, selama dia bukan orang yang bayar gue!!
9.       Life is all about choices
Udah jutaan kali gue denger orang bilang, “Hidup itu isinya serba pilihan”. Ya ya ya..gue baru bener-bener paham dan mengerti maksud kata itu. Dan ternyata memilih itu beraat yaaa? Mungkin simpel sih, gue pernah dihadapkan untuk memilih terus bekerja atau fokus skripsi. Bodohnya, gue nggak terlalu pinter menjalani keduanya dengan seimbang. Mau nggak mau gue harus pilih satu, saking bingungnya gue sampai solat istikharah. Menimbang-nimbang mana baik dan buruk ternyata juga tidak mudah ketika itu harus dihadapkan sama yang namanya egois diri sendiri.
10.   Mulai bisa menerima, mengerti, dan memahami
Apa yang kita inginkan nggak selamanya bisa kita dapatkan. Lagi-lagi gue baru ngerasa makna dari kata-kata itu. Banyak orang di sekeliling gue, yang punya sifat jelek, begitupun diri gue sendiri. Tapi sampai kapan gue bisa menghindari mereka? Gue paham, saat apa yang gue punya itu tidak sesuai dengan keinginan gue, di sinilah saatnya gue harus belajar untuk menerima dan mensyukuri itu.


2011, saatnya gue punya 11 resolusi yang setidaknya harus terlaksana di tahun mendatang. Mungkin tulisan ini terlalu pribadi, setidaknya ini jadi catatan saya untuk mengingat kembali apa yang harus dilakukan di tahun ini. At least, 11 resolusi ini adalah proses belajar gue untuk menjadi pribadi yang lebih baik...
1.       Mengurangi solat yang dijama’ – gue masih sering ngegabung solat gue, intinya sih karena gue nggak mau repot. Banyak yang bilang itu nggak papa, tapi banyak yang bilang itu nggak boleh kecuali terpaksa. Well, gue akan coba untuk mengurangi kebiasaan gue ngegabung solat kalau mau pergi, kecuali bener-bener terpaksa
2.       Belajar tafsir al-quran – selama ini gue tiap hari ngaji cuma baca bahasa arabnya doang. Entah kenapa gue takut baca terjemahannya, karena saat gue tahu sesuatu kewajiban baru yang harus dilakukan dan gue nggak melakukan itu berarti gue dosa. Selama ini gue nggak tahu jadi gue nggak dosa, he he he... nah mulai tahun depan, gue mau coba deh dikit-dikit belajar tafsir biar pengetahuan gue soal Islam juga jadi lebih baik
3.       Lulus kuliah – gue rasa ini bukan resolusi, tapi sesuatu yang dipastikan harus terjadi di tahun 2011
4.       Be a bit introvert – I’m dangerously extrovert. Kayaknya semua masalah pribadi gue sering bener gue ceritain ke orang. Kadang ngerasa ada ruginya juga jadi orang yang terlalu ekspresif, pengen deh gue nyoba jadi orang yang lebih kalem, ga terlalu ekspresif dan keeping my own problems + secrets
5.       Nabung – 2010 jadi pembelajaran gue buat terbiasa nabung, tapi sialnya begitu ngeliat jumlah tabungan yang banyak, gue langsung gatel pengen beli gadget. Yang ada tabungan gue abis lagi, abis lagi -___-“ satu pelajaran dari 2010, gue kayaknya nggak bisa nabung di bank deh, bawannya pengen gesek mulu. Well, gue berencana beli celengan ayam jago atau babi ngepet deh buat keep duit gue buat kawin (yaa kali buat kawin >.<)
6.       Solat lebih khusyuk – umur gue 23 tahun, tapi solat gue suka cepet-cepet. Nggak usah muluk-muluk gue pengen solat gue bisa lebih khusyuk dan bacaan doa solat gue beneeeer nggak asal selesai doang J
7.       Punya mimpi besar untuk 2012 – baru-baru ini gue sadar, gue terlalu ikut arus kemana dia bawa hidup gue. Kayaknya gue hidup tanpa punya mimpi besar deh. Well, 2011 gue akan coba rakit mimpi besar gue yang harus terwujud di tahun 2012. Sedikit cerita kenapa gue nggak pernah punya mimpi, karena gue nggak suka kalau impian gue itu nggak tercapai, gue ngerasa wasted banget. Tapi rasanya 2011 jadi awal yang baik untuk mulai bermimpi
8.       Belajar masak – setelah mengalami beberapa kali kegagalan dalam hal masak-memasak, gue juga sempet putus asa dan mikir kayaknya gue ditakdirkan untuk nggak boleh masak, 2012 gue tetap mau usaha mati-matian buat bisa masuk. Seriously, gue suka malu kalau pacar gue minta dimasakin :”(
9.       More friends, less haters – gue tipikal orang yang nggak mau ambil pusing, termasuk saat ada orang yang benci gue. 2011 sifat ini mutlak harus berkurang. Mungkin salah satu caranya, gue harus pinter dan mau berbasa-basi sama orang kali yaa.. Selama ini gue paling males yang namanya basa-basi. 2011, ini harus dicoba.. Insya Allah..
10.   Dua resolusi terakhir gue rasa semua orang juga pengen deh. I wanna be happier
gue niup terompet tapi kayak niup cerutu -__-"
11.   And success in every way


11 resolusi diakhiri dengan kata “Amiiiin...”
I’m counting down to 2011 while write this words... 
Happy new year people... 
2011 must be more interesting..