feel free to comment but you're not allowed to complain!!
just enjoy..

Sabtu, 01 Januari 2011

Amazing 2010

Never regret 2010, big hope on 2011

This is the last post on 2010. Yapp, ini refleksi kehidupan saya di tahun 2010, so many smiles, sometimes tears, but i thank god for all the joy and blessed, so I’m ready to face 2011.

2010  entah apa yang ada di otak gue pas nulis ini, intinya gue mau tulis 10 cerita “up and down” kehidupan gue di tahun macan ini
1.    I Know What’s My Passion!!
Awal tahun 2010, kampus gue nan kucinta (kutukupret) mengharuskan gue untuk praktik kerja lapangan (PKL), pertama gue kerja di media cetak, tepatnya di majalah Aneka Yess!! Gue yakin yang ada di otak lo saat gue sebut majalah itu adalah majalah kelas C, nggak mutu, plus norak. Iya kan? Iya dong? Unshamed to told ya, gue nggak pernah menyesal masuk ke sini. Sejuta pengalaman gue dapat dari majalah yang khas sama ciri senyum tiga jari itu.
Kerja selama empat bulan di sana, bikin gue jatuh cinta sama profesi wartawan (majalah remaja). (hamir) Tiap hari kerja, tiap hari pulang malem, tapi nggak pernah sekalipun gue mengeluh. I called it passion!!
Kerja di Aneka kasih gue duabelasjuta pengalaman berharga. Belajar nulis ala majalah remaja jauh dari kata mudah. I was learning by doing. Exclusive interviewed with Imogen Heap and Dashboard Confessional, jadi moment paling woow di tahun ini. Gue nggak pernah mimpi, wawancara band luar negeri, eh taunya jadi kenyataan. Rejeki emang nggak kemana J jalan-jalan keliling Indonesia gratis, kasih workshop di depan ribuan anak SMA, and FYI, baru di sini gue ngerasa mendadak artis. Kebayang nggak, seberapa kagetnya gue, tiba-tiba gue (beberapa kali) dikerubuti anak SMA yang mau foto bareng . Zzzzz
Gue dapat pengalaman nggak cuma sekedar hanya jadi wartawan doang (kata-kata gue nggak ekonomis amat dah -___-“)  
2.       Dipaksa kawin!!
Beberapa kali gue nangis-nangis datang ke sahabat, ngerasa nyokap gue sedikit nggak normal. Tiba-tiba dia maksa-maksa gue untuk kawin, gue mau dikenalin ke anaknya si inilah si itulah. Zzzz.... Dia obsessed banget pengen punya menantu kaya. Apa namanya? Matre ya? Nggak kok, si mama nggak matre, dia cuma nggak mau anaknya sengsara, tapi caranya berlebihan. Dan saya pun merasa itu sangat berlebihan. Beberapa kali ngerasa pulang, beberapa kali ngerasa kecewa banget sama si mama. Sampai akhirnya, kita bertengkar hebat, dan papa yang mendamaikannya. (mendadak gue nangis pas nullis ini :’(
Once i said to her, “Aku nggak akan nikah cepet. Banyak yang mau aku kejar. Kalau mama mau anak mama nikah cepet-cepet, suruh aja Brena (ade gue) dulluan. Aku rela kok dilangkahin”
3.       Money.. Money.. Money...
Punya uang dari hasil keringat sendiri bukan jadi hal baru dari saya. Tapi tahun ini luar biasa. Saya merasa papa bukan satu-satunya corong kehidupan saya. Saya bisa nabung buat beli ini itu dan bisa jajanin mama papa ini itu dan bisa jalan-jalan ke sana sini. Intinya, I’m happy with my own money...
4.       Go Abroad
Selama 23 tahun hidup di dunia, akhirnya gue pergi keluar negeri. Serunya, pergi pakai uang hasil keringat sendiri.... Walaupun cuma ke Singapore, tapi cukup memotivasi saya untuk cari lebih banyak uang lagi, untuk jalan-jalan lagi
5.       Maybe I was born to be a Workaholic
Baru dua kali kerja gara-gara PKL, tapi entah kenapa gue cinta banget kerjaaaa. Langsung males kuliah, dan berharap ada keajaiban gue bisa lulus tanpa skripsi. Gue pengen cepet kerja, tapi kuliah gue terhambat gara-gara kerja. Maksa pengen kerja sambil kuliah, hasilnya kuliah gue agak berantakan. Nggak masalah deh, yang penting gue nggak mau menyia-nyiakan semua pekerjaan yang ditawarkan ke gue. Eh itu ciri-ciri workaholic nggak sih menurut lo??
6.       Up and Down Love Life
Rachmat Widhia Setya Dharma kayaknya yang lebih tahu seberapa gue jatuh bangun jatuh cinta (bahasa gue kayak meggi jet dah). Putus nyambung, sempat sebentar move on ternyata salah orang, sampai akhirnya gue yakin, tipe cowok impian gue itu nggak selamanya bisa kasih yang gue inginkan. Lengkapnya pernah gue tulis di blog ini, judulya “Butuh untuk Hidup, Ingin untuk Mimpi”
7.       Marriage is Not my Priority
Dulu pas kecil gue punya cita-cita pengen nikah muda dan cepet punya anak. Pas udah gede kenapa gue jadi takut nikah? Kayaknya makin ke sini gue makin sadar,nikah tuh susah dan sedikit menakutkan. Ntar kalau udah nikah, pasti nggak boleh ini itu sama suami. Sedangkan gue paling nggak suka diatur dan gue gampang bosen. Banyak banget kerjaan yang pengen gue cobain, kalau udah punya suami, susah bener kayaknya kalau kerjaan gue menuntut gue banyak di luar, yang ada ntar suami gue rewel. Zzzzzz...
Salah satu mimpi buruk yang paling gue takutin adalah duduk manis di belakang meja kerja dari jam 9 sampai jam 5. Bunuh aja gue!!! Gue suka pekerjaan yang pindah-pindah, nah ntar kalau punya suami pasti susah kan?
Satu lagi, gue belum bisa masak. Walaupun ini bisa belajar sambil jalan, tapi gue suka kasian aja kalau nanti suami gue harus makan masakan pembantu. Intinya, gue merasa belum siap untuk bisa jadi istri yang baik dalam waktu “dekat” (“dekat” means 3 tahun lagi)
8.       There’s No (real) Friends at The Office
Ini pelajaran yang mungkin paling berharga dalam hidup gue. Nggak selamanya teman yang lo kira baik itu bener-bener baik sama lo. Itu terjadi sama gue. Suatu kali gue nolongin temen gue untuk bisa kerja di kantor gue. Awalnya semua terlihat baik-baik aja, tapi kok makin ke sini gue lihat gelagatnya makin aneh. Ternyata oh ternyata, dia iri sama gue. Kenapa gue terus yang diajak roadshow keluar kota? Kenapa dia nggak pernah? Sempet ngerasa gue nggak punya teman di kantor. Dan gue harus temenan sama orang dari divisi lain, nggak big deal sih buat gue, selama dia bukan orang yang bayar gue!!
9.       Life is all about choices
Udah jutaan kali gue denger orang bilang, “Hidup itu isinya serba pilihan”. Ya ya ya..gue baru bener-bener paham dan mengerti maksud kata itu. Dan ternyata memilih itu beraat yaaa? Mungkin simpel sih, gue pernah dihadapkan untuk memilih terus bekerja atau fokus skripsi. Bodohnya, gue nggak terlalu pinter menjalani keduanya dengan seimbang. Mau nggak mau gue harus pilih satu, saking bingungnya gue sampai solat istikharah. Menimbang-nimbang mana baik dan buruk ternyata juga tidak mudah ketika itu harus dihadapkan sama yang namanya egois diri sendiri.
10.   Mulai bisa menerima, mengerti, dan memahami
Apa yang kita inginkan nggak selamanya bisa kita dapatkan. Lagi-lagi gue baru ngerasa makna dari kata-kata itu. Banyak orang di sekeliling gue, yang punya sifat jelek, begitupun diri gue sendiri. Tapi sampai kapan gue bisa menghindari mereka? Gue paham, saat apa yang gue punya itu tidak sesuai dengan keinginan gue, di sinilah saatnya gue harus belajar untuk menerima dan mensyukuri itu.


2011, saatnya gue punya 11 resolusi yang setidaknya harus terlaksana di tahun mendatang. Mungkin tulisan ini terlalu pribadi, setidaknya ini jadi catatan saya untuk mengingat kembali apa yang harus dilakukan di tahun ini. At least, 11 resolusi ini adalah proses belajar gue untuk menjadi pribadi yang lebih baik...
1.       Mengurangi solat yang dijama’ – gue masih sering ngegabung solat gue, intinya sih karena gue nggak mau repot. Banyak yang bilang itu nggak papa, tapi banyak yang bilang itu nggak boleh kecuali terpaksa. Well, gue akan coba untuk mengurangi kebiasaan gue ngegabung solat kalau mau pergi, kecuali bener-bener terpaksa
2.       Belajar tafsir al-quran – selama ini gue tiap hari ngaji cuma baca bahasa arabnya doang. Entah kenapa gue takut baca terjemahannya, karena saat gue tahu sesuatu kewajiban baru yang harus dilakukan dan gue nggak melakukan itu berarti gue dosa. Selama ini gue nggak tahu jadi gue nggak dosa, he he he... nah mulai tahun depan, gue mau coba deh dikit-dikit belajar tafsir biar pengetahuan gue soal Islam juga jadi lebih baik
3.       Lulus kuliah – gue rasa ini bukan resolusi, tapi sesuatu yang dipastikan harus terjadi di tahun 2011
4.       Be a bit introvert – I’m dangerously extrovert. Kayaknya semua masalah pribadi gue sering bener gue ceritain ke orang. Kadang ngerasa ada ruginya juga jadi orang yang terlalu ekspresif, pengen deh gue nyoba jadi orang yang lebih kalem, ga terlalu ekspresif dan keeping my own problems + secrets
5.       Nabung – 2010 jadi pembelajaran gue buat terbiasa nabung, tapi sialnya begitu ngeliat jumlah tabungan yang banyak, gue langsung gatel pengen beli gadget. Yang ada tabungan gue abis lagi, abis lagi -___-“ satu pelajaran dari 2010, gue kayaknya nggak bisa nabung di bank deh, bawannya pengen gesek mulu. Well, gue berencana beli celengan ayam jago atau babi ngepet deh buat keep duit gue buat kawin (yaa kali buat kawin >.<)
6.       Solat lebih khusyuk – umur gue 23 tahun, tapi solat gue suka cepet-cepet. Nggak usah muluk-muluk gue pengen solat gue bisa lebih khusyuk dan bacaan doa solat gue beneeeer nggak asal selesai doang J
7.       Punya mimpi besar untuk 2012 – baru-baru ini gue sadar, gue terlalu ikut arus kemana dia bawa hidup gue. Kayaknya gue hidup tanpa punya mimpi besar deh. Well, 2011 gue akan coba rakit mimpi besar gue yang harus terwujud di tahun 2012. Sedikit cerita kenapa gue nggak pernah punya mimpi, karena gue nggak suka kalau impian gue itu nggak tercapai, gue ngerasa wasted banget. Tapi rasanya 2011 jadi awal yang baik untuk mulai bermimpi
8.       Belajar masak – setelah mengalami beberapa kali kegagalan dalam hal masak-memasak, gue juga sempet putus asa dan mikir kayaknya gue ditakdirkan untuk nggak boleh masak, 2012 gue tetap mau usaha mati-matian buat bisa masuk. Seriously, gue suka malu kalau pacar gue minta dimasakin :”(
9.       More friends, less haters – gue tipikal orang yang nggak mau ambil pusing, termasuk saat ada orang yang benci gue. 2011 sifat ini mutlak harus berkurang. Mungkin salah satu caranya, gue harus pinter dan mau berbasa-basi sama orang kali yaa.. Selama ini gue paling males yang namanya basa-basi. 2011, ini harus dicoba.. Insya Allah..
10.   Dua resolusi terakhir gue rasa semua orang juga pengen deh. I wanna be happier
gue niup terompet tapi kayak niup cerutu -__-"
11.   And success in every way


11 resolusi diakhiri dengan kata “Amiiiin...”
I’m counting down to 2011 while write this words... 
Happy new year people... 
2011 must be more interesting..

Minggu, 19 Desember 2010

Sweet November

Bukan mau pamer kalau saya sibuk, but November is the busiest month ever!!

Saya cuma punya waktu 10 hari leha-leha, sisanya 4Malang-Sidoarjo-Jakarta-Jatinangor-Jakarta-Singapore-Jakarta-Jatinangor-Solo-Semarang-Jakarta-Jatinangor

Maha Suci Allah, saya nggak sakit thypus. Allah Maha Besar, saya menggendut. (*Hubungannya apa deh?  Karena saya nggak mau thypus, saya lahap semua makanan di depan mata dan hasilnya berat badan tak terkontrol)

Bulan itu saya cari banyak uang, buang banyak uang, dan mengeluarkan banyak keringat. Kegiatan “cari banyak uang” saya dipenuhi dengan acara school visit keliling Jawa, kasih workshop di depan ratusan anak SMA soal cara merawat kulit versi produk Garnier. 

Kira-kira gini deh, kerjaan gue selama keliling kota. Kasih workshop soal inner and outter beauty. Padahal gue sendiri, masih belajar soal itu. hehehe


Sedangkan, kegiatan “buang banyak uang” saya dipenuhi dengan liburan sebentar ke negara tetangga sampai kartu kredit over limit. Di sela-sela padatnya jadwal show (macam artis aja deh gue), saya harus BBJJ *bolak-balik-jakarta-jatinangor* buat kuliah, dapat dipastikan kegiatan itu mengeluarkan banyak keringat kan? Suatu kali, saya baru tiba dari Singapore pukul 20.00, besok paginya ada kuliah jam 10.00 di Jatinangor, dan sore harinya pukul 17.00 pesawat saya sudah lepas landas menuju Solo.

Itu sepenggal kisah cemen mimpi yang pelan-pelan terwujud..

Mungkin kamu pernah baca tulisan saya yang judulnya, “Early October Wishlist”. Thank god, beberapa hal yang saya impikan dan saya inginkan dapat terwujud di bulan November.

New Spirit for My Thesis
ini gadget paling mahal yang bisa saya beli dari hasil keringat sendiri, semoga abis ini bisa beli yang lebih mahal lagi. amiin :) 
 Travelling Around by an Airplane 
yeaaay, i love travelling (sorry, i mean travelling yet working) . this is the first time, i touched down Malang

jembatan San Fransisco ala Indonesia (baca: Suramadu)
yeay, another sweet-but-short-escape to singapore :)))
 at Sam Poo Kong - Semarang - another working yet travelling
No More Tears, and Always Smile 
see, my mouth widely open, SMILE...



Keringat yang banyak keluar, waktu yang banyak terpakai itu dibayar dengan segudang kegiatan seru di atas. Saya mulai paham, bahagianya beli laptop sendiri, bahagianya keluar negeri pakai uang sendiri, dan beliin mama papa oleh-oleh dari uang dinas luar kota. It feels amazing

By the end of the Sweet November, the happiness is ended too. Unsweet things, truly happened on my december, especially on my birthday. Entah kenapa ulang tahun kali ini, saya biasa saja, tidak ada yang spesial, dan tidak ada yang membuat ini jadi spesial. Jangan tanya kenapa? Sesampainya saya di Jatinangor, saya harus menahan rindu (cailaah bahasa gue, rinduuu) tiga minggu nggak ketemu pacar. Yessss!! Pacar saya kerja dan sibuk beraaat. Saya ulang tahun, dia cuma kirim BBM. Ketemu cuma sekali dalam seminggu, itu juga nggak lama. Tiga minggu juga dia sibuk sama kerjaannya, total saya pengen garuk-garuk tanah. *inhale-exhale-inhale-exhale* sekarang saya berdoa aja semoga uang hasil kerjanya dipakai buat beliin kado ulang tahun saya. Hehehe..

Sampai sini dulu nulisnya, daripada saya masuk ke wilayah yang lebih pribadi, yang ada nanti gue curhat. Eh, rasanya seru juga nih, kalau postingan selanjutnya soal refleksi hidup kita di tahun 2010 lanjut resolusi 2011. Please share yours..!!! 

22 Feels Like 32

I'm almost entering the 2nd and 3rd part of my life..

Kalau kamu pernah baca tulisan saya sebelumnya, "An Ideal Life vs My Own Life", kamu pasti ingat, saya pernah membagi hidup dalam empat bagian: (1) Born; (2) Married; (3) Have a Child; and (4) Die

Saat ini kamu ada dimana?

Saya masih ada di jalan dari satu menuju dua. Tapi saya hampir paham rasanya ada di nomor dua dan tiga. Nah lho, kok bisa??

2010 jadi tahun pertama saya datang ke resepsi pernikahan teman-teman saya. Catat! Teman-teman saya. Berarti lebih dari satu kan? Ya, ada sekitar empat hajatan yang saya sambangi (kesannya kayak mau berantem ya?) hehehe..

Empat-empatnya teman sebaya saya. Umurnya sama-sama 22 tahun. Hebat ya mereka, mau berbagi hidup saat saya masih memilih untuk memikirkan diri sendiri.

Sedikit banyak saya paham lika-liku ber-rumah tangga. Salah satu sahabat terdekat saya menikah bulan Agustus lalu. Dia cerita semuanya, termasuk pengalaman malam pertamanya. Whoaaa, glad to know that marriage is not about full time happiness!! Jadi, buat kamu yang kebelet nikah, pikir 1000 kali, karena lo nggak bisa memutar waktu.


Gue hobi banget foto sama pengantin. Orang yang antri salaman di belakang gue, pasti kesel, karena gue foto-foto dulu ;p



Selesai ke acara-acara pernikahan, kemarin saya dapat undangan aqiqah. Well well well, temen gue banyak yang udah punya buntut. Dan saya mulai terbiasa dengan sebutan "Aunty Asti"



they call me, "AUNTY ASTI"


Saya mulai terbiasa, double date ke mall sama pasangan suami istri tambah seorang baby.
Saya mulai terbiasa, nemenin temen di nursery room mall, nyusuin anaknya
Saya mulai terbiasa, lihat-lihat pakaian anak kecil, sekedar cari kado buat si baby-baby itu
Saya mulai terbiasa, makan di restoran fast food, sekedar nemenin anak teman saya main perosotan
Saya mulai terbiasa, didatangi tengah malam saat teman saya ribut dengan mama mertuanya
Saya mulai terbiasa, nonton film kartun saat main ke rumah teman yang lagi nyuapin anaknya

Saya belum menikah, bahkan belum ada waktu untuk memikirkan soal itu secara serius, tapi sedikit banyak saya tahu rasanya, rasa enaknya, dan rasa tidak enaknya.

Abis nulis ini, gue mendadak ngerasa tua. Entah kapan saya benar-benar masuk ke bagian kedua dalam hidup saya? Tunggu postingan berikutnya soal pernikahan saya, yang mungkin akan diposting saat kalian sudah duluan punya anak. hehehe..  

Perempuan Gila Kerja

Kayaknya keren tuh kalau kamu dapat sebutan workaholic. Jadi orang yang punya segudang kegiatan itu kayaknya seru. SERU?? --> SURE??

Banyak mitos bilang, “jadi perempuan itu harus milih, mau karier bagus atau rumah tangga bahagia?”
Namanya juga mitos, belum tentu benar-belum tentu salah. Kalau saya dihadapkan pada pilihan itu, rasanya saya pengen main petak umpet sama si “pilihan karier” atau si “bahagia rumah tangga”

Salah satu orang yang paling menginspirasi dalam hidup saya, she’s dangerously smart, beauty in inner and outter, and such a good leader. Awalnya saya lihat hidupnya begitu sempurna, suami tampan, anak-anak pintar dan lucu, karier cemerlang. Tapi, belakangan dia sering pingsan di kantor, alasannya dia sakit dan kurang istirahat. God speed, ternyata sesaat sebelum dia pingsan, dia baru saja menerima telfon dari pengacaranya. Ya, she got divorced!! Di mata saya, dia hebat, dia sangat mandiri karena tidak pernah bergantung pada penghasilan suaminya, dia pemimpin yang sangat menginspirasi karyawannya, tapi dia hilang arah dalam hubungan rumah tangganya. Karena apa? Simpulkan sendiri!!

Sahabat saya, sangat bahagia akan pernikahannya. Istri yang manut sama suami, tiap hari masak, beresin rumah, beresin “urusan ranjang” sampai dia stress sendiri sama rutinitasnya. Akhirnya ia minta ijin sama suami untuk bekerja. Diijinkan asal bla bla bla bla bla.. Hasilnya, dia harus puas dengan penghasilannya yang standar dan jenjang karier yang statis plus pekerjaan yang sangat membosankan. So far, pernikahan mereka baik-baik saja. Si suami juga nampak bahagia tuh punya istri seperti si sahabat itu..

Mama sahabat saya, dokter gigi hebat dan cukup terpandang di kotanya, punya suami sesama dokter gigi dengan jam terbang yang jauh di bawah sang istri. Belakangan, sahabat saya sering mengeluh, orang tuanya bertengkar. Alasannya? U-A-N-G!! Uang si mama lebih banyak, karena si mama lebih workaholic daripada si papa. Tahu kan ya, kalau laki-laki itu nggak mau kalah. Naaah, si papa di sini juga nggak mau kalah, dia pengen terlihat banyak uang, caranya? Beli rumah baru, mobil baru, sampai uangnya habis. Dan kelanjutan hidup keluarga itu bergantung dari uang mama. Sahabat saya mengeluh dan beberapa kali menangis, takut mama papanya cerai. Sempat terbesit di otak sahabat saya, ingin memberi tahu mamanya, tapi apa daya, mereka pun bergantung hidup dari keringat si mama.


Sempat terpikir oleh saya, wanita yang mandiri itu cenderung egois. Setuju?

Sedikit bisa diamini,sometimes it happens to me. Saya tidak suka diatur dan saya tidak suka bergantung. So sorry but IMO,  terkesan lemah banget deh cewek yang dikit-dikit minta jemput, dikit-dikit minta anter. Saya paham, saya nggak mungkin hidup sendiri di dunia ini, tapi saya sedikit lebih nyaman saat semua bisa saya lakukan sendiri. Belum lagi nanti kalau orang yang kita “gantungi” itu tidak satu pemikiran sama kita, gosh, bikin urusan tambah ribet doang. Hidup kita udah ribet, ditambah ribet lagi sama orang-orang yang cuma bikin ribet doang, makin ribet kan? Dan saya yakin kalian juga ribet memahami kata-kata saya di atas.

Unshamed to told ya, I’m a bit selfish. 100 persen saya sadar, bagian selfish ini harus cepet-cepet dieliminasi. Nggak bagus banget lama-lama ada di kepribadian gue. Tapi akankah saat gue nggak lagi selfish, gue juga jadi nggak lagi mandiri? Dan kebanyakan mereka yang workaholic adalah mereka yang mandiri, berarti hubungan antara workaholic dengan egois deket ya?

Kesimpulan tolol dari tulisan ini adalah: saat kamu menyerah untuk berbahagia dalam berumah tangga, berarti kamu punya ego yang terlalu tinggi untuk mengurangi sendikit kegilaan kamu akan pekerjaan.

Sedikit cerita soal wanita workaholic, boleh ditimbang-timbang, kiranya kamu mau pilih yang mana? So far, saya masih bisa katakan, Workaholic itu seru. Mungkin ada yang bisa kasih pengalaman baru soal perempuan gila kerja? Feel free for adding some comments J
  

Rabu, 15 Desember 2010

thumbs up for singapo-ah

Kaya tapi bodoh lama-lama akan jadi miskin

Miskin tapi pintar lama-lama akan jadi kaya

Apa yang akan Anda pilih?

Saya sudah pasti pilih miskin tapi pintar dan lama-lama akan jadi kaya. So does Singapore. Yaa, mungkin agak terlambat saya menilai kepintaran negara ini. Unshame to told ya, finally, i went abroad with my own money. And i chose Singapore as the 1st country to visit..

5 hari menghabiskan waktu di sana, tidak berhenti saya berdecak kagum akan cara pikir mereka. Negara kecil tanpa sumber daya alam ini mampu menunjukkan kelihaiannya dalam menata perekonomian. Semuanya canggih, semuanya di atas rata-rata, semuanya patut diacungi jempol.
1.       Lalu Lintas dan Transportasi
Padat di bawah, lengang di atas. Mungkin itu yang terlintas di benak saya saat menatapi keadaan lalu lintas di sana. Sehari saya habiskan waktu saya untuk menikmati keramaian MRT. Kereta bawah tanah ini sungguh ramai, agak penuh sesak, tapi tetap tertib. Halte bawah tanah, dan mobilitas masyarakatnya di bawah tanah sungguh mencerminkan padatnya penduduk negeri singa ini.
Terasa berbeda saat saya muncul ke permukaan. Sesekali saya memilih bus untuk menikmati pemandangan. Jangan harap bertemu kemaceta!! Rasanya cuma Jakarta yang bersahabat dengan penyakit macet itu. Singapore ramah dengan mereka yang anti macet.
2.       Tempat Wisata
Besar ekspetasi saya akan keseruan tempat wisata di Singapore. Bukan kecewa, tapi sedikit merasa kurang puas. Indonesia juga bisa memberikan keseruan berwisata, tapi bukan wisata belanja. Saya paham, kenapa orang Indonesia gemar plesir ke sini, mereka punya semua toko yang ada di dunia. Yaaa, singapore surga belanja. Membuat tangan saya hampir patah membawa kantong belanjaan, membuat kaki saya pantang pegel mengitari semua mall yang ada di sana, dan membuat kartu kredit itu over limit. Ampuuuun!!!
3.       Kreativitas
Bagi Anda yang pernah menyaksikan laser show Songs of the Sea, pasti setuju dengan pendapat saya. Singapore punya tingkat kreativitas tinggi ditunjang dengan kemajuan teknologi yang jauh meninggalkan Indonesia. Saya berdecak kagum melihat cara mereka mengelola otak dan menghasilkan pertunjukkan yang luar biasa menakjubkan.
Tak hanya itu, wisata keliling kota dengan bus terbuka bukan hal sulit untuk diwujudkan di Jakarta. Lantas mengapa tidak? Saya rasa, terpikir pun belum pernah oleh para pemerintah. Mereka punya kreativitas untuk memajukan negaranya tanpa modal apapun dari alam.
4.       Kebersihan
Saya rasa kalian semua sudah tahu seberapa nyamannya berjalan kaki di sepanjang jalan Singapore. Mengapa bisa? Karena bersih and no polution. Entah di Jakarta bagian mana saya bisa menemukan suasana bersih dan nyaman seperti itu?
5.       Semangat kerja
Saya kaget sekaligus salut kepada mereka yang sudah lanjut usia tapi masih bersemangat untuk mencari uang. Singapore memberlakukan hal tersebut. Hampir semua pelayan jasa di restoran dan airport mempekerjakan mereka yang lanjut usia. Sedangkan mereka yang ada di usia produktif, bekerja di sektor wisata.
6.       Time is (more than) Money
Jangan harap bisa jalan pelan di sana. Saat naik elevator saja, saya seringkali minggir ke sebelah kiri, guna menghormati mereka yang ingin mendahului. Time flies, and money doesn’t wait. Hampir bisa dipastikan berapa waktu tempuh yang saya butuhkan untuk sampai ditujuan. Kenapa bisa? Karena semua berjalan tepat waktu.

Sabtu, 23 Oktober 2010

an ideal life VS my own life

Life is all about born, married, have a child, and die

BORN..
Ini takdir Tuhan yang tak terbantahkan. Saat dilahirkan ke dunia, manusia tidak diberi pilihan siapa orang tuanya kelak. Manusia dipaksa menerima dari rahim siapapun dirinya akan keluar, ia harus berbakti kepadanya. Pada saat ini pula semua “suratan” kehidupan kita telah ditulis dengan rapi oleh sang kuasa.
Abis lahir lalu harus apa? Kebanyakan orang menghabiskan ¼ abad untuk hidup sendiri mencari jati diri. Mencari materi, mencari “hahahihi”, dan mencari “hiks hiks hiks”.

MARRIED..
Usia 25 tahun saya jadikan patokan yang ideal bagi diri saya pribadi untuk siap memasuki jenjang kehidupan kedua, yakni pernikahan. Entah dengan siapa jodoh saya kelak, siapapun itu, saya yakin Tuhan punya cerita indah atas dirinya.

HAVE A CHILD..
Saya perempuan, sempurna bagi saya adalah saat ada nafas yang berhembus dari dalam perut saya, kemudian keluar dari rahim, dengan sejuta gen yang diturunkan oleh saya dan suami saya kelak.
Punya anak, terus mau apa? Tidak berandai terlalu tinggi, saya ingin anak-anak saya kelak bisa merawat dan mendoakan saya jika raga ini sudah renta atau bahkan terkubur dalam tanah.

DIE..
Hidup itu bagaikan roda, saat kita muncul dari bawah, maka tunggu saja saat kita akan kembali ke bawah. Ke bawah liang lahat dengan pakaian maha sempurna, kain kafan bersih, yang akan membawa kita bertemu sang pencipta

Hidup yang saya analogikan di atas terkesan sangat simpel, tapi sangat sulit dinyatakan..

Saya, mahasiswa tingkat 4 salah satu univ. negeri di kota Bandung usia 22 tahun. Jengah, bosan, muak dengan kata lulus dan nikah. Entah mengapa, bagi saya hidup tidak sesimpel “lulus terus nikah”. Saya terancam cumlaude dengan syarat lulus tidak lebih dari bulan Februari 2011. Mungkin lulus februari itu mimpi, karena sulit untuk saya mewujudkannya. Jangan tanya mengapa? Saya punya seribu alasan untuk mengatakan saya memilih lulus di waktu yang tepat daripada lulus cepat.

8 dari 10 orang bilang saya workaholic
8 dari 10 orang bilang saya mata duitan
8 dari 10 orang bilang saya beruntung
10 dari 10 orang bilang saya harus punya prioritas

Kuliah saya terhambat saat saya kenal rupiah. 
Kuliah saya terhambat saat papa bukan lagi sumber pendapatan saya. 
Kuliah saya terhambat saat blackberry onyx dan vaio putih saya dapatkan dari keringat sendiri. 
Kuliah saya terhambat saat saya memilih untuk bekerja keliling Indonesia daripada pergi ke kampus. 
Kuliah saya terhambat saat semua pekerjaan minta diselesaikan di depan mata.

Hidup adalah pilihan, dan itu pilihan saya. Entah salah entah benar, saya tidak boleh menyesal. Saya tak bisa ingkar, kadang ada pilu saat melihat teman-teman bimbingan skripsi. Tapi lagi-lagi, saya sudah memilih, saya mencoba sekuat hati untuk tidak mengeluh.

Banyak orang di luar sana, pikir saya bodoh. “Kuliah komunikasi aja lama betul,” ujar mereka. Tapi saya masa bodoh, saya tidak makan dari keringat mereka.
Banyak orang di luar sana, pikir saya bodoh. “Semua teman dan saudara seumuran kamu sudah jadi sarjana,” ujar mereka. Tapi saya masa bodoh, saya tidak makan dari keringat mereka.

Asal mama papa masih sabar menanti, gelar S.Ikom pun pelan-pelan akan saya raih dengan cara saya sendiri.

See, itu baru satu problem dalam hidup yang hingga kini belum ditemukan jalan keluarnya..

Hayang kawin win win win hayang kawin..
(dalam bahasa sunda, artinya pengen kawin)
Ya saya ingin, tapi 3 tahun lagi. Ya saya ingin, tapi setelah bisa beli mobil sendiri. Ya saya ingin, tapi setelah penghasilan saya sendiri bisa mencukupi biaya hidup saya *belanja-salon-fitness-nabung*.

Apa jadinya jika 3 tahun lagi itu belum terjadi?
Apa jadinya jika sebelum 3 tahun saya sudah punya itu?
Tidak akan terjadi apa-apa, itu namanya hidup yang sesungguhnya. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.

Rabu, 13 Oktober 2010

deCINdeTApe deFIKdeSIpe: Legowo

Cerita cinta ini fiksi karangan saya sendiri, jika ada kesamaan nama atau peristiwa, dipastikan itu merupakan ketidaksengajaan. So please, jangan kegeeran atau tersinggung dengan cerita-cerita yang bertitel “decindetape defikdesipe” ini!!

Bebi: “Kamu dimana? Hari ini aku mau jenguk nenek. Ikut yaa?”
Sherina: “Mendadak banget ya. Aku di rumah, harus rapiin rumah karena malam ini mama papa pulang dari luar kota”
Bebi: “Terserah lah (nada ketus), aku maunya kamu ikut”
Sherina: “Loh kok marah sih? Ya gimana dong, aku juga maunya ikut, tapi aku juga harus kerjain pekerjaan rumah”
Bebi: “Emang nggak bisa ditunda apa kerjaannya? Aku kasih waktu sejam. Abis itu kita berangkat”
Sherina: *berpikir keras, ingin bertemu si nenek, enggan bertengkar, menyelesaikan pekerjaan rumah dalam waktu super kilat
Sherina: “Aku udah di jalan ke rumah kamu”
Bebi: “Ok” (sambil tersenyum lebar)


Sherina: “Sahabat aku mau nikah, kamu mau dateng ga? Kamu juga diundang kan?”
Bebi: “Nggak ah, aku banyak deadline”
Sherina: “Ok” (air mata deras mengucur)

Pernah mengalami hal serupa?

Bagi sebagian orang, sifat mengalah Sherina itu disebut pengertian
Bagi sebagian orang, sifat mengalah Sherina itu disebut terpaksa mengalah daripada bertengkar
Bagi sebagian orang, sifat mengalah Sherina itu disebut “mau aja dipaksa sama pacar lo, tolol”

Jika saya adalah Sherina, saya tahu bahwa saya dilahirkan untuk selalu dipaksa mengalah, selalu mengerti, dan bukan jadi seorang pemaksa.